Etika Fotografi

Sebagai penikmat foto dan pehobi fotografi yang sedang belajar, saya ingin share beberapa pengalaman saya dalam bidang ini terutama yang berkaitan dengan kode etik fotografi, mudah-mudahan berguna.

Tidak gampang menurut saya menjadi fotografer apalagi kalau kita sudah menenteng kamera besar model SLR baik yang digital maupun yang manual. Pernah suatu ketika saya didatangi seorang ibu ketika saya sedang memfoto kerumunan anak-anak yang sedang bermain di acara umum, dia bilang tolong jangan foto anak-anak saya, nampaknya ibu itu khawatir bila foto-foto tersebut akan di publish. Namun ketika saya jelaskan bahwa ini hanya untuk koleksi pribadi dia bisa mengerti. Pernah juga saya ditegur seorang karyawan ‘Costco’ (Departemen store di Hawaii sejenis Makro di tempat kita) yang keberatan ketika saya mengambil foto-foto di depan pintu masuknya. Sependek pengetahuan saya di Hawaii/Amerika kita boleh foto-foto di dalam mall/toko sekalipun, tapi biar lebih aman memang kita harus selalu tanya sebelum memutuskan untuk mengambil foto.

Kebanyakan hal-hal yang tidak enak itu terjadi ketika saya bawa kamera sejenis SLR tapi tidak pernah terjadi ketika saya gunakan kamera pocket atau HP he3x. Makanya saya lebih suka bawa kamera pocket dan memfoto obyek-obyek seperti landscape dan flora fauna dibandingkan obyek manusia.

Dari pengalaman saya memfoto teman-teman di suatu komunitas dan mempostingnya untuk di ‘share’ yang paling saya rasakan berat justru ketika harus memilih foto-foto yang harus saya upload. Banyak yang harus dipertimbangkan apalagi bila obyeknya individual close up, kebanyakan orang tidak mau bila fotonya yang jelek di upload maunya yang bagus-bagus aja deh, gitu. Bahkan ada yang tidak mau sama sekali foto close up nya muncul meski bagus. Atau pose-pose tertentu yang mungkin saja tidak disuka. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan biasanya usai memotret selalu saya usahakan untuk memperlihatkan hasil foto tersebut, kalau suka artinya tidak keberatan bila di share dengan orang lain. Semakin sering kita memfoto di suatu komunitas biasanya kita akan dapat ‘common sense’ atau ‘preferences’ dari komunitas tersebut jadi tidak perlu lagi repot saat memilih foto.

Selain itu juga batasi ‘audience’nya, misal link album foto tersebut hanya di share terbatas di mailing list komunitas tersebut atau di set private bukan public, meski link itu bisa saja jatuh ketangan orang lain setidaknya fotografer sudah memberikan signal bahwa foto-foto itu ‘only intended for this community’. Dan bila ada keberatan harus segera ditangani. Ingat, sekali kita publish foto di internet akan sangat sulit untuk menariknya kembali karena siapa saja bisa mengunduhnya.

Saya ingin share beberapa tips tentang etika fotografi, silahkan klik di link ini dari seorang jurnalis foto asal Surabaya. Meski domainnya di Indonesia menurut saya bisa juga kita terapkan dimana saja. Klik juga di sini untuk tips fotografi di alam liar.

Satu lagi, heeee maaf bila terlalu panjang. Karya foto sejatinya mempunyai copyright sama seperti hasil karya tulis dimana setiap kita menggunakannya terutama untuk publikasi atau komersil kita harus minta ijin atau cukup dengan memberikan credit dengan mencantumkan si pemilik karya foto atau si pengambil foto. [Agung Nugroho]

~ by giantrangkong on April 8, 2008.

3 Responses to “Etika Fotografi”

  1. wah berguna bgt om! saya juga penikmat foto (walaupun masih pemula:mrgreen: ) biasa sih saya cuma nenteng kamera digital doank buat jepret-jepret..biasa saya upload ke kompasimages, lumayan buat share 😀

  2. Berguna sekali Om…., MEMANG KALAU SUDAH BERBICARA FOTOGRAFI TERUTAMA KALU SUDAH PEGANG SLR ,emang kompleks masalahnya…., karena dianggap profesional dan terkesan mempunyai maksud dan tujuan tertentu termasuk untuk koleksi pribadi jadi saya pikir Etika fotografi harus sangat dijunjung tinggi terutama kalu sudah menyangkut objek hidup( manusia) yaw … to..?? hehehehe so kalau mau hunting foto pake SLR harus ati2 dan selalu peka terhadap Kondisi di luaran…,karena kenyataanya ada banyak orang yang suka difoto sampe minta2 buat kita foto tanpa mereka pikirkan bahwa foto dengan objek mereka akan kita publish …yaw to ?tapi juga ada yang sebaliknya merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita…hehehehehe..

  3. @krishna, txs
    @banu_dkv_0012, yup setuju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: