Perjuangan Mencari Pahala Ramadhan (2)

Tarweh 2007Kok sepi? Kemana orang-orang yang biasanya rame saat berbuka tiba? Kubawa langkahku menuju ke dalam masjid, kulihat ada beberapa orang di sana, masing-masing sudah sibuk dengan makanannya sendiri. Didorong oleh rasa penasaran aku tanya salah satu dari mereka. “Excuse me brother, I am wondering where is everybody? Usually plenty of people are around at this time and the masjid provides iftar (food) for us”. “Hi, brother” jawabnya “The iftar is only provided on friday and saturday”. Alamak, betul-betul aku lupa, perasaan dulu setiap kali aku datang selalu ada keramaian orang. “But the ramadhan program is held everyday, imam will lead salah isyak, after that a recitation and continued with taraweh. There will be a speech during the taraweh break” lanjutnya. Aku manggut-manggut, yah mungkin tahun lalu aku beberapa kali datang kesini setelah maghrib menjelang isyak. Sehingga dalam benakku setiap hari masjid selalu menyediakan buka. Ingatanku melayang ke kampung halaman di Jogja. Di sana hampir tiap masjid selalu menyiapkan makanan kecil atau tajil bagi orang-orang yang harus berbuka di tengah perjalanan. Bahkan beberapa masjid besar menyediakan makan besar berupa nasi lengkap dengan lauk pauknya.

“Have you break your fast, brother?” orang itu bertanya lagi, tiba-tiba aku tersadar kalau aku tidak membawa makanan ataupun minuman apapun. Bingung juga mau bilang apa, nampaknya orang yang kutanya tadi yang belakangan kutahu dia seorang mahasiswa di University of Hawaii, mengerti akan kondisiku. “Hi brother, let me share this fruit with you, I have plenty of it”, diapun menyodorkan sebungkus plastik berisi anggur. “Thank you” jawabku, sambil kuambil beberapa anggur dan memakannya. “Please have some more” dia menawarkan lagi setelah dia lihat aku hanya mengambil beberapa buah saja. Akhirnya tak hanya dia saja yang menawarkan makanannya, beberapa orang yang kutemui di masjid pun melakukan hal yang sama. Bahkan setelah shalat maghrib berjamaah, aku diajak makan bersama oleh penghuni apartemen yang menyatu dengan komplek masjid. Memang masjid ini mempunyai beberapa kamar yang disewakan untuk menopang operasional masjid.

Aku merasakan buka puasa kali ini begitu istimewa, meski makanan tidak melimpah tapi sudah lebih dari cukup bagiku apalagi ditambah dengan suasana penuh persudaraan. Sebelum kulanjutkan ceritaku, perlu rasanya ku jelaskan terlebih dulu tentang masjid yang satu ini.

Dari luar, masjid yang terletak diperbukitan Manoa ini bentuknya seperti rumah biasa tanpa kubah di atasnya. Disekelilingnya terdapat halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Bangunan dua lantai yang kira-kira luas perlantainya 200 meter persegi ini, di bagian bawahnya digunakan untuk ruang ibadah utama yang bisa menampung 300 orang, ruang perpustakaan dan ruang khusus untuk wanita (sister). Sedangkan lantai duanya digunakan untuk apartemen.

Di bagian belakang masjid terdapat ruang kelas berukuran 6 x 4 meter yang biasa digunakan untuk sunday school. Kemudian di sisi kanan masjid terdapat bangunan baru berupa tempat wudhu dan restroom, baru seminggu bangunan ini digunakan. Masjid ini memang masjid yang pertama di Hawaii dan sampai saat ini merupakan satu-satunya masjid tidak hanya di pulau Oahu saja tapi juga di seluruh kepulauan Hawaii. Komunitas muslim di Hawaii sebetulnya tersebar di pulau-pulau yang lain seperti Big Island, Maui, Kaho’olawe, Lana’i, Moloka’i, Kaua’i dan Ni’ihau (http://www.iio.org). Namun populasi yang terbesar ada di O’ahu.

Tibalah waktu sholat Isyak, orang-orang sudah mulai berdatangan, lumayan banyak yang datang malam itu mungkin sekitar 50 orang. Di ruang “sister” juga nampaknya cukup penuh. Setelah shalat Isyak berjamaah yang dipimpin oleh imam masjid Sheikh Ismail, program dilanjutkan dengan mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al Qur’an (recitation) oleh sang imam. Rasanya begitu khusyuk dan dengan perasaan tenteram aku menyimak suara merdu dari imam Seikh Ismail membacakan firman-firman Tuhan. Selang 15 menit kemudian, kita melaksanakan shalat taraweh. Shalat taraweh dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dan ditutup dengan sholat witir 3 rakaat. Diantara sholat taraweh, setelah 4 rakaat pertama, ada break yang diisi dengan ceramah. Ceramah disampaikan oleh ustad Muhammad Abdullah yang diundang secara khusus selama ramadhan untuk mengisi ceramah keagamaan. Dr. Muhammad Abdullah adalah seorang warga negara Australia. Lahir dari orang tua seorang keturunan Palestina dan Libya. Meski ia lahir di Australia tapi dibesarkan di Yordania. Dia merupakan pendiri the Griffith University Islamic Research Unit (GIRU) dan saat ini menjadi ketua the Queensland Muslim Community Reference Group. Semenjak aku di Hawaii dua tahun lalu sudah dua kali berturut-turut Ustad Abdullah didaulat untuk memberikan ceramah selama ramadhan.

Ustad Abdullah memberikan ceramah tentang the day of judgment yang diantaranya membahas tentang hari kiamat. Setiap orang pasti akan mati, dan kematian bagi seseorang adalah kiamat baginya. “Finish, no return” begitu kata ustad Abdullah menekankan, bahwa setelah mati tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Satu-satunya yang masih tetap mengalir adalah amal jariyah. Dan terpujilah orang-orang yang mati saat dia menjalankan ibadah kebaikan.

Hamparan karpet merah maroon nan empuk bercorak mirip karpet di masjid Istiglal Jakarta serta ruangan yang sejuk ber AC menambah kekhusyukan jamaah yang hadir mendengarkan uraian dari sang Ustad. Materi yang dibawakan pun tidak terlalu berat dan mudah dicerna bagi kebanyakan para jamaah yang datang dari berbagai negara dengan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda. Sederhana tapi sangat mendalam dengan tata bicara bahasa inggris yang sangat fasih dan jelas, tidak seperti kebanyakan orang-orang Australia yang katanya bicaranya “mumbling”.

Tak terasa sudah tiga puluh menit ceramah disampaikan dan waktu sudah menunjukkan pukul 9.30, artinya ceramah akan disudahi dan dilanjutkan dengan shalat taraweh sesi ke dua. Tepat jam 10 malam seluruh rangkaian program ramadhan untuk malam itu berakhir, jam 10 malam adalah jam yang telah disepakati disitu demi menjaga ketenangan warga sekitar. Akhirnya saatnya aku pulang ke dormitory, seorang teman dengan suka hati menawarkan tumpangan untuk mengantarku pulang.

Alhamdulillah ya Allah atas rahmat yang telah kau berikan padaku hari ini dan semoga esok hari dan hari-hari selanjutnya aku termasuk dalam orang-orang yang beruntung yang selalu diberi nikmat olehmu sehingga aku bisa mengejar pahala yang kau janjikan dengan kemudahan dan hati yang lapang. Amiin. [Agung Nugroho]

Belum lengkap rasanya kalau belum baca kisah sebelumnya di sini.

Photograph by Agung Nugroho 

~ by giantrangkong on October 3, 2007.

2 Responses to “Perjuangan Mencari Pahala Ramadhan (2)”

  1. […] Alhamdulillah, sampai juga aku ke masjid, sudah kubayangkan nikmatnya berbuka di sini dengan menu yang spesial. Tapi, mukaku langsung pucat, kok sepi? Kulihat jam tanganku, ah sudah hampir buka, tapi kok gak ada orang? Gak ada keramaian? Jangan-jangan…(to be continued) […]

  2. ramadhan segera berpuasa
    ramadhan bulan ampunan
    ramadhan menjelang idhul fitri
    ramadhan shalat penuh berkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: