Perjuangan Mencari Pahala Ramadhan (1)

Tarweh 2007Tak terasa sore sudah menjelang, langit sudah mulai berwarna dan temaram mulai menyapa. Sore itu lumayan cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu didera hujan gerimis. Niatku untuk pergi ke masjid nampaknya akan berjalan mulus, maklum aku sedang menghindari tetesan air hujan yang bisa meng-KO staminaku yang lagi diserang flu. Kulihat jam tangan casio tough solarku, ah masih satu setengah jam lagi sebelum waktunya berbuka. Bergegas kuambil handuk dan mandi shower, hhmmm hangat. Seingatku, belum pernah aku mandi dengan air dingin disini, maklum dingin banget brrrr…

Setengah jam berlalu dan aku sudah siap dengan baju terbaikku, baju batik warna coklat, dipadu dengan celana panjang coklat dan sendal coklat pula. Aku memang lagi demen warna coklat, warna kemewahan. Padahal sebelumnya warna kesukaanku adalah biru, perlambang kedamaian. Biar wangi tak lupa kusemprotkan banyak-banyak parfum axe phoenix yang tinggal separoh isinya. “Sunnah hukumnya untuk memakai wangi-wangian ke masjid” begitu nasehat pak ustad.

Sepuluh menit berlalu, setelah “ngaca” sana sini dan merapikan rambut, aku siap berangkat. Kuraba kantong celanaku satu-satu, dompet ada, kunci kamar ada, kunci sepeda ada, jam tangan sudah kupakai, kamera sudah masuk kantong, apalagi ya..ah voice recorder gak boleh ketinggalan, langsung kuambil dari tasku dan masuk kantong celana. Siap sudah semuanya, langsung aku keluar kamar. Eeeeit tunggu dulu, rasanya masih ada yang lupa, bathinku, apa ya? Oh ya payung. Bisa berabe nih klo tiba-tiba hujan dan gak pake payung. Kusambar payung yang tergantung di depan lemari pakaian.

Tiba di parkiran sepeda aku berpikir lagi, enaknya naik sepeda atau jalan kaki yah? Kulihat jam tanganku, masih 50 menit lagi, masih banyak waktu. Ah jalan kaki aja lah, “nyante”, lagian semakin banyak langkah kaki ini mengayun ke masjid semakin banyak pahala yang kuperoleh! Pikirku sambil senyum-senyum.

Rasa-rasanya perjalanan ke masjid sore itu tampak berbeda, pemandangan di kanan-kiri terasa lebih indah, pohon-pohon melambai-lambai di ayun angin sepoi-sepoi yang turut menerpa wajahku dengan lembut. Kuhirup dalam-dalam udara sore yang sejuk itu, ah segar. Sepanjang jalan kudapati sprinkle di taman-taman sudah mulai menyala, menyemprotkan air ke tanaman disekelilingnya seolah ingin berbagi kegembiraan menjelang berbuka. Pastilah tanaman-tanaman itu dengan lahapnya menikmati guyuran air nan sejuk setelah seharian diterpa terik matahari.

Kulangkahkan terus kaki ini menuju masjid, sudah dua puluh menit berlalu, tiba-tiba “mak bedunduk” dari belokan jalan di depan muncul anjing setinggi satu meter berlari kencang ke arahku,”guk guuk gukk gguk guk” busyet! Jangan-jangan mau nubruk aku nih? Buru-buru kulangkahkan kaki menjauh, tapi syukurlah karena ternyata dibelakangnya, seorang wanita separuh baya berlari mengikuti setengah terseret, tangan kanannya memegang dengan erat seutas tali kekang yang mengalungi leher si anjing, ooh ternyata mereka sedang olahraga bareng tho, kompaknya…he he he.

Belum lima menit berjalan, eeh, dari arah seberang kiri jalan, dengan galaknya seekor anjing berbalut kulit hitam mengkilat tak henti-hentinya “berteriak-teriak” kearahku “guk ggukk guuuk guk”, asem! Bathinku, ada apa ini? Rasanya mau sampai masjid aja kok banyak gangguannya, belum pernah aku mengalami hal ini sebelumnya, “tengsin” juga! Mudahan-mudahan gangguan ini untuk yang terakhir kalinya.

Dugaanku ternyata salah besar, setelah menyeberang jalan dan tinggal lima menit perjalanan menuju masjid, hujan gerimis mendadak turun, waduh bisa tambah parah nih flu ku, bergegas kulangkahkan kakiku lebih cepat. Malas juga mau buka payung, wong masjid sudah di depan mata. Di saat kewalahan menghadapi guyuran rintik hujan tanpa kuduga tahu-tahu “guk guuuk guuk guuk ggukk ggukkg gukg”, Astagfirullah hal adzhiem! teriakku kaget, bayangkan, dari sebelah kiri jarak dua meter, segerombolan anjing menyerbu kearahku, hampir saja kuambil langkah seribu, tapi untunglah ada pagar kuat yang menghalangi upaya anjing-anjing itu. Rupanya anjing-anjing itu mengira aku ini trespasser, padahal cuman lewat doang di depan rumah majikan mereka, dasar anjing!. Meski kutahu sangat jarang sekali anjing-anjing di Amerika ini menyerang manusia, tetapi tetap saja aku miris.

Alhamdulillah, sampai juga aku ke masjid, sudah kubayangkan nikmatnya berbuka di sini dengan menu yang spesial. Tapi, mukaku langsung pucat, kok sepi? Kulihat jam tanganku, ah sudah hampir buka, tapi kok gak ada orang? Gak ada keramaian? Jangan-jangan…(to be continued) [Agung Nugroho]

Photograph by Agung Nugroho 

~ by giantrangkong on October 3, 2007.

One Response to “Perjuangan Mencari Pahala Ramadhan (1)”

  1. […] Belum lengkap rasanya kalau belum baca kisah sebelumnya di sini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: