Mengapresiasi sebuah novel, Norwegian Wood

Norwegian WoodSangat sering aku membaca sebuah novel, tapi sangat jarang sekali aku bisa menceritakannya kembali dengan kalimatku sendiri serta memberi suatu analisa di dalamnya. Pernah beberapa kali aku “ter-duduk” mengikuti salah satu sesi di konferensi bertopik sastra. Sumpah aku hanya bisa bingung ini ngomongin apa sih? Tanpa ada slide presentasi, gambar atau apa kek yang menarik perhatianku, hanya verbal alias cerita saja, dalam bahasa inggris pula, karena gak ngerti alurnya jadi meski sedikit-sedikit ngerti artinya tapi tetep aja bingung aku. Nah tulisan di bawah ini, sedikit banyak telah membantuku untuk berproses ke tahapan mengapresiasi sebuah novel. Kita tidak perlu membahas keseluruhan isi dari novel itu, mengungkap sebagian bab saja dan membahasnya, akan menjadi sebuah tulisan yang menarik. Novel karangan Haruki Murakami yang terbit tahun 1987 ini mengambil setting di Tokyo akhir 60-an. Karyanya ini telah menjadikan Haruki Murakami menjadi seorang penulis yang sangat terkenal di kalangan anak muda Jepang. Enjoy.

Anak perempuan itu, Reiko-san, Norwegian Wood

Oleh: Batari Saraswati

“Aku kira kalau ia cantik dan cerdas akan menjadi manusia sempurna. Setelah cerdas dan cantik, ingin lebih apa lagi daripada itu? Meskipun dua hal itu oleh semua orang dikatakan sebagai urusan penting, tetapi mengapa kita harus menyiksa, menganiaya, menipu kelemahan dan kekurangan diri sendiri? Karena bukankah tidak ada alasan harus melakukannya?”

Ucapan Reiko-san dalam Norwegian Wood – Haruki Murakami, tentang seorang anak perempuan yang diajarinya bermain piano.

Reiko-san, salah satu tokoh dalam Norwegian Wood. Awalnya ia bercita-cita menjadi seorang pianis profesional. Sayang, cita-cita itu gagal.
Ketika akan mengikuti perlombaan, kelingking kirinya tidak bisa digerakkan. Bukan sekedar masalah saraf jari, ia juga harus masuk pusat rehabilitasi kejiwaan karenanya. Itu terjadi saat usianya 24 tahun.
Gagal sudah cita-cita Reiko-san. Akhirnya ia hanya bermain piano untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, seorang Ibu datang padanya, meminta Reiko-san untuk mengajari anak perempuannya bermain piano. Menurut cerita si Ibu, anak perempuannya sering melewati rumah Reiko-san dan terpukau mendengar permainan pianonya.
Si Ibu juga menceritakan anak perempuan itu sudah beberapa kali berguru piano, tapi tidak pernah lancar.

Meskipun awalnya enggan, akhirnya Reiko-san memperbolehkan anak itu untuk menemuinya.

Diceritakan olehnya, anak yang diajarinya ini sangat pintar, juga cantik. Rambutnya panjang, kaki ramping, matanya berbinar-binar. Sempurna sebagai seorang perempuan.
Permainan pianonya pun menarik. Tidak lihai memang, tapi permainannya memiliki jiwa. Hal itu diketahui ketika Reiko-san memintanya bermain Invention – Bach.

Reiko-san akhirnya setuju untuk mengajari anak ini, siapa tahu ia bisa menjadikannya pianis yang berhasil.

Tapi ternyata tidak. Jauh dari apa yang dibayangkan Reiko-san. Anak itu tidak sesempurna yang dilihatnya. Pembohong kronis, itu istilah yang diberikan Reiko-san kepada anak itu.
Untuk melindungi dirinya, anak perempuan ini sering berbohong. Pintar memutarbalikkan cerita. Juga tahu benar cara membuat orang terkagum-kagum padanya.

“Ia tahu bagimana cara memainkan piano agar aku tertarik. Ia adalah anak yang memanfaatkan berbagai macam cara dan memperhitungkan segalanya dengan teliti untuk membuat orang kagum dan memujinya.”

Ternyata bukan hanya kebiasaannya menceritakan kebohongan yang menjadi masalah. Diketahui pula bahwa anak itu ternyata seorang lesbian, tingkat profesional. Dan Reiko-san adalah korbannya.

***

Reiko-san bukan lah tokoh utama dalam Norwegian Wood.
Tapi bab dimana reiko-san muncul adalah bagian yang paling aku suka (lupakan bagian lesbiannya). Bukan karena dekat dengan kehidupan sendiri – itu terlalu ekstrem.
Aku tertarik pada tokoh anak perempuan yang diceritakan Reiko-san. Tidak disangka.

Kesan pertama, orang bisa menjadi siapa saja. Bisa dibuat sebagus apa yang dimau untuk membuat orang terkesan. Tapi toh suatu saat kan terungkap juga.

Aku melihat hal itu seperti seperti anak perempuan yang diceritakan Reiko-san ini.
“Alur bicaranya bagus, pendapatnya tegas dan tajam, ia punya bakat alami untuk memikat lawan bicara. Sampai-sampai aku merasa takut. Dengan kata lain, karena lawan bicara kita cerdas dan cantik kita merasa jadi manusia yang rendah dan tenggelam.”

Ternyata anak itu lesbian. Hah.

***

Poster taken from Wikipedia

~ by giantrangkong on October 2, 2007.

One Response to “Mengapresiasi sebuah novel, Norwegian Wood”

  1. haloo2, bagus blognya🙂, silakan dikutip. terimakasih yaaa.
    arigatou gozaimasu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: