Merana

Meranaaaaa, aku meranaaaaa……..petikan syair lagu Rhoma Irama seakan mewakili kondisiku beberapa hari ini, bete!.

Summer kemarin, selama kurang lebih 3 bulan kuhabiskan semua dengan pulang ke Indonesia. Maklum, selain karena rindu dengan keluarga juga tak ada alasan kuat untukku untuk tetap berada di Hawaii, tak ada kelas yang bisa kuambil saat itu. Dan yang lebih penting lagi adalah menyelesaikan salah satu proses pembuatan thesisku, ambil data lapangan. Yah sekali jalan dua tujuan tercapai, begitulah kira-kira prinsip yang kuambil mirip kata pepatah ‘sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Sudah empat hari yang lalu aku sudah berada kembali di Hawaii, tepatnya di Honolulu. Hawaii yang juga dikenal sebagai “a paradise island”, “rainbow state” atau kata orang Indonesia “jantung pasifik” karena letaknya memang berada ditengah laut pasifik tak menunjukkan banyak perubahan sepeninggalku ke Indonesia. Proses di imigrasi yang makan waktu lama juga masih kualami. Satu-satunya yang berubah adalah kamarku di dorm. Dan inilah yang membuatku bete.

Meski sudah empat hari di sejak kedatanganku ke Hawaii, rasa-rasanya jam biologi di tubuhku belum mau menyesuaikan dengan waktu setempat. Indonesia dan Hawaii mempunyai perbedaan waktu selama 17 jam artinya klo di Indonesia orang sudah pada tidur di Hawaii masih tengah hari bolong. Imbasnya ke aku, klo siang hari rasanya mo tidur aja sedang malam hari sebaliknya, maunya “melek” terus. Ada istilah khusus untuk kondisi ini yaitu “jet lag” kondisi dimana tubuh kita dibawa pada perbedaan waktu yang sangat ekstrem dalam tempo yang singkat sehingga ritme biologis dalam tubuh kita jadi terganggu. Beberapa orang bisa mngatasinya dalam beberapa hari saja sedang yang lainnya bisa dalam hitungan minggu.

Dalam kondisi tubuh belum benar-benar fit, aku masih dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus memindahkan barang-barangku dari storage yang lama ke storage yang baru. Mending klo masih satu lantai, ini pindah lantai bung! mana berat-berat lagi…huuh kesel juga. Belum lagi kamar yang kutempati menghadap kesisi dimana sinar matahari bisa langsung menerpa jendela dan menaikkan temperature bagian dalam kamar yang sempit ini, mirip “green-house” lah. Tak hilang akal, saat itu juga aku apply permohonan ganti kamar, namun berapa lama aku bisa dapat kamar yang baru, tak tahu pasti, bisa berminggu-minggu. Dan kalau sudah dapat kamar baru, alamat pindah lagi dan angkat-angkat barang lagi, sial!

Belum lagi alat masak yang raib entah kemana. Duh…lengkap sudah penderitaanku ini. Untunglah teman-teman selalu ada untuk membagi stok makanannya denganku atau sekedar meminjamkan alat masaknya sehingga aku bisa masak sendiri.

~ by giantrangkong on August 29, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: